Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Efendi SH SIK MSi, bersama Wakil Gubernur Riau, Edi Natar Nasution dan General Manager SHR PT RAPP Wan Jakh menghadiri acara launching Pelatihan P"> Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Efendi SH SIK MSi, bersama Wakil Gubernur Riau, Edi Nata" />
Home
 
 
 
 
KOMIT TINDAKLANJUTI MOU
Unilak Gelar Pelatihan Relawan Karhutla

Selasa, 25/02/2020 - 21:09:22 WIB
Pekanbaru - Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Efendi SH SIK MSi, bersama Wakil Gubernur Riau, Edi Natar Nasution dan General Manager SHR PT RAPP Wan Jakh menghadiri acara launching Pelatihan Penanganan Karhutla di kampus Unilak Riau Jalan Yos Sudarso, Pekanbaru Selasa pagi (25/2/2020). (Foto Humas Polda Riau).

Sementara itu dalam sambutannya, Wakil Gubernur Riau Edi Natar Nasution mengatakan bahwa Riau memiliki lahan yang 57 persen di antaranya adalah gambut.

Hal ini membuat potensi kebakaran di Riau menjadi tinggi. Tahun 2019 merupakan situasi yang luarbiasa karena Karhutla. Di Riau sudah terjadi 1997 kali karhutla, dengan kerugian jadwal pesawat yang ditunda, pendidikan terkendala dan lain lain. 

"Dan untuk ke depan kita harus mengantisipasi agar karhutla tidak berulang ulang terjadi. Pihak Pemprov Riau sudah berkoordinasi dengan Satgas terkait, termasuk Polda Riau yang telah mempunyai gagasan baru. Dengan Dashboard Lancang Kuning kita bisa memprediksi titik api yang timbul. Hal ini sudah mendapat apresiasi dari Kapolri untuk 13 Polda lainnya yang mempunyai kendala Karhutla agar mencontoh Polda Riau," ujar Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution.

Langkah lainnya adalah melaksanakan Operasi Tindakan Pencegahan. Status Riau adalah siaga darurat yang dicanangkan 14 februari - 31 Oktober 2020, yang telah didahului oleh penetapan status darurat di kota Bengkalis, Dumai dan Siak. Karhutla tidak mengenal batasan, dan penyelesaian bencana asap tidak bisa diselesaikan hanya satu pihak. 

"Kita tidak hanya berupaya, seperti yang disampaikan Kapolda dan GM PT RAPP. Yang kita lakukan sekarang sudah menjadi langkah besar untuk menanggulangi karhutla. Titik api di Riau lebih rendah. Yang tinggi itu titik api dari Sumsel dan Jambi. Tapi pergerakan angin dari Selatan sampai ke Jambi, begitu sampai ke Riau, angin itu membelok dan berhenti di Riau. Akibatnya titik api kita sedikit tapi asap di Riau lebih banyak. Ini tidak mudah kita beri pemahaman, namun itu faktanya” ujar Edi Natar sambil menutup doorstop dengan wartawan. (Riswan L)
Home