Home
 
 
 
 
Indonesia Belum Temukan Varian Baru Virus Corona, Peneliti Soroti Kemampuan Deteksi yang Terbatas

Rabu, 30/12/2020 - 11:16:26 WIB

Kapasitas Indonesia yang terbatas untuk memeriksa mutasi virus menyebabkan hingga saat ini belum diketahui pasti apakah varian baru virus corona yang pertama kali ditemukan di Inggris sudah menyebar di dalam negeri, kata peneliti.

Sementara itu, sejak awal pekan ini, sekitar 200 orang dari luar negeri sudah tiba di Indonesia menjelang penerapan larangan WNA masuk Indonesia mulai tanggal 1 Januari, dalam upaya mencegah penularan varian baru virus corona yang pertama dideteksi di Inggris.

Pemerintah sendiri mengatakan sudah melakukan berbagai upaya untuk memitigasi penyebaran varian virus, salah satunya dengan memberlakukan karantina wajib bagi mereka yang baru tiba dari luar negeri.

Selain itu, akan dilakukan pula upaya untuk mendeteksi varian virus baru, kata pemerintah.

Kerumunan di bandara
Media sosial ramai setelah foto kerumunan orang di pintu kedatangan Terminal Tiga, Bandara Soekarno Hatta, pada Senin (28/12) malam beredar di internet.

Melalui keterangan tertulisnya Selasa (29/12), pengelola Bandara Soekarno Hatta mengatakan ada sekitar 200 orang dalam kerumunan itu yang tengah menunggu untuk diantar ke tempat karantina.

"Proses menuju lokasi karantina ini yang kemudian menyebabkan adanya kepadatan di Terminal Tiga Kedatangan Internasional sebagaimana foto yang beredar di media sosial, karena sejumlah pesawat juga datang bersamaan," kata Ketua Satgas Udara Penanganan COVID-19 Kolonel Pas M.A Silaban.

Namun, seluruh penumpang pesawat sudah berhasil dikarantina di sejumlah hotel yang ditunjuk pemerintah, kata pengelola bandara.

Menanggapi celah kedatangan pengunjung internasional sebelum 1 Januari, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan para pengunjung telah diwajibkan mengikuti mekanisme pencegahan penularan virus corona yang ditetapkan satgas.

Dalam aturan yang dikeluarkan tanggal 22 Desember lalu diatur bahwa pelaku perjalanan harus menyerahkan hasil PCR negatif dari negara asal yang berlaku 2x24 jam sejak keberangkatan.

Mereka juga diminta melakukan karantina selama lima hari.

Selanjutnya, kata Wiku, mulai tanggal 1 Januari 2021, seluruh WNA kecuali pejabat asing setingkat menteri dan pemegang izin tinggal di Indonesia, akan dilarang masuk.

"Saya ingin menekankan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah merupakan upaya untuk melindungi masyarakatnya dari penularan Covid-19 termasuk imported case dari varian baru yang ditemukan di Inggris," ujarnya.

Kapasitas terbatas Indonesia
Hingga kini, Satgas mengatakan belum menerima laporan varian baru virus corona yang pertama dideteksi di Inggris dan diumumkan pada 20 Desember lalu.

Sementara, negara tetangga Indonesia, seperti Singapura, juga beberapa negara Asia seperti Hong Kong, Korea Selatan, dan Jepang sudah mendeteksi varian itu.

Mutasi baru ini telah terdeteksi di banyak negara Eropa, Kanada, Korea Selatan dan juga India.

Mutasi virus Covid-19 ini disebutkan para ilmuwan menular secara lebih cepat namun tidak ada bukti yang menunjukkan menyebabkan sakit yang lebih parah pada mereka yang terjangkit.

Walaupun belum terdeteksi di Indonesia, bukan berarti varian virus baru belum masuk ke Indonesia, menurut ahli virus Sidrotun Naim.

Ia menyorot kapasitas Indonesia yang terbatas dalam mendeteksi mutasi virus melalui whole-genome sequencing atau pengurutan gen virus secara menyeluruh.

"Apakah Indonesia ada atau belum varian itu, kita tidak bisa bilang ada atau tidak. Yang jelas datanya kita tidak punya karena kita tidak melakukan sequencing (pengurutan DNA varian baru).

"Bagaimana bisa tahu keberadaanya, ya harus dilakukan sequencing memang. Misalnya untuk saat ini sedang banyak penularan di Jakarta, coba itu di sequence sudah ada (varian virus baru) atau belum," kata Sidrotun.

Proses mengetahui adanya varian baru ini, kata Sidrotun Naim, terkendala karena memakan banyak biaya dan waktu.

Ia merujuk data genom virus yang dikumpulkan dari berbagai negara di Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) hingga Desember.

Dari sekitar 300.000 data, Indonesia baru melaporkan pengurutan genom 125 virus corona, baik secara utuh maupun parsial, dengan berdasarkan data terbaru di bulan Oktober.

Meski Sidrotun memuji kemampuan Indonesia yang sudah meningkat pesat terkait pengujian genom virus, data itu menunjukan Indonesia masih di belakang negara tetangganya.

Malaysia, misalnya, sudah melaporkan 295 data dan Singapura dengan sekitar 1.500 data.

Sementara, setengah dari total data global, dilaporkan oleh Inggris.

Padahal, menurut Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Profesor Gunadi, Indonesia idealnya bisa melakukan pengurutan genom 3.000 virus, atau 1% dari semua data global.

Sejauh ini, UGM sudah mengurutkan genom 19 virus.

Ia lanjut menjelaskan mengapa pemeriksaan varian virus penting.

"Pertama untuk mengetahui jika ada mutasi baru yang diimpor dari luar, yang kedua mungkin ada mutasi baru di Indonesia itu juga bisa, mengingat November, Desember, jumlah kasus meningkat pesat," kata Gunadi.

Peningkatan kasus pesat, kata Gunadi, terjadi di Inggris dan Afrika Selatan, dan saat diperiksa di kedua negara tersebut terdeteksi varian virus baru.

"Kami hipotesisnya di Indonesia mungkin ada varian atau mutasi baru yang spesifik Indonesia. Itu fungsinya surveilans genomic. Nanti ketahuan itu," ujarnya.

Terkait hal ini, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan pemerintah berkomitmen untuk melakukan pemetaan genetik virus corona untuk dapat memahami distribusi dan karakter virus.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan pada bulan Desember ini sudah dilakukan upaya untuk mempercepat deteksi mutasi virus corona.

Salah satunya, kata Bambang, dengan memberikan dana ke lembaga Eijkman untuk melakukan pemeriksaan genom 1.000 virus corona.

Tingkatkan penelusuran
Menurut ahli virologi Sidrotun Naim, Indonesia bisa mengejar untuk melakukan pengurutan genom virus dengan memeriksa bagian-bagian penting virus saja, tidak perlu secara keseluruhan.

"Bukan hanya karena pertimbangan biaya, tapi juga kecepatan," ujarnya.

"Indonesia bisa buat target, misal dalam sebulan harus 10 WGS (pemeriksaan keseluruhan) dan 100 parsial," ujarnya.

Dengan keterbatasan yang ada untuk melakukan surveilans berbasis genom, Sidrotun menekankan pentingnya penelusuran kasus Covid-19 demi memutus penularan virus.

"Kalau mau menangani pandemi, fokus di peningkatan kapasitas tes, tracing, isolasi dan disiplin masyarakat. Tracing manual asal serius sudah sangat membantu," ujarnya.
Home