Home
 
 
 
 
PDIP Siapkan Calon Pemimpin Lewat Pendidikan Kader Nasional

Selasa, 16/11/2021 - 13:14:46 WIB

PDI
Perjuangan mendidik calon pemimpin bangsa melalui Pendidikan Kader
Nasional (PKN) DPP PDI Perjuangan di Gedung Sekolah Partai, Lenteng
Agung, Jakarta Selatan. Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan
kegiatan ini untuk mempersiapkan kader menjadi pemimpin yang baik dari
segala aspek.

"Sekarang momentum bagi kami untuk terus
meningkatkan kualitas kepemimpinan kader-kader partai agar ideologis dan
memiliki kemampuan teknokratis, agar mumpuni, mempunyai kepekaan
terhadap lingkungan, punya tanggung jawab terhadap sosial, dan sekaligus
mempunyai energi pergerakan dalam membangun 'political network'," kata
Hasto dilansir Antara, Senin (15/11).

Menurut dia, PDIP juga
membangun kesadaran kader untuk terus bergerak ke bawah dan memahami
keseluruhan dinamika kehidupan di akar rumput dan mencari solusi melalui
kepeloporan kader Partai.

"Berbagai kesadaran ini harus dibangun selama kaderisasi. Syaratnya adalah kedisiplinan dari peserta," tegas Hasto.

Dia
mengatakan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan
memberikan pengarahan kepada peserta PKN. "Kita akan mendengar bersama
arahan dari ketua umum kita ibu Megawati sekaligus membuka kaderisasi
tingkat nasional ini," kata Hasto di hadapan para peserta.

Hasto
memaparkan banyak hal yang akan diajarkan di PKN ini. Arahnya adalah
proses kaderisasi yang harus membangun seluruh aspek kepemimpinan baik
yang ditugaskan di partai, di lembaga eksekutif, legislatif, maupun di
lembaga sosial kemasyarakatan.

Hasto juga menegaskan pesan
Megawati Soekarnoputri bahwa kader itu adalah bingkai yang membuat
partai ini kokoh dan solid bergerak. Di dalam PKN, peserta akan belajar
dan ditanamkan sikap tentang pentingnya disiplin, pentingya pemahaman
terhadap sistem dan teori politik, sejarah perjuangan bangsa, potensi
ancaman yang dihadapi bangsa ke depan.

"Itu menjadi sejumlah
materi yang akan disampaikan di PKN, selain hal-hal yang berkaitan
dengan kebijakan Partai berdasarkan Trisakti Bung Karno," ujar pria asal
Yogyakarta ini.

Kepada 77 peserta PKN yang merupakan perwakilan
dari 34 pengurus DPD PDIP setingkat provinsi, Hasto sempat memaparkan
sejarah perjuangan PDI yang kemudian berubah menjadi PDIP. Dia
menhatakan selama 32 tahun Orde Baru, PDI hanya menjadi ornamen
demokrasi.

"Itu sering sekali disebut oleh almarhum Bapak
Sutjipto Sekjen PDI pada 2000 dan 2005. Sebagai ornamen demokrasi tentu
saja kita tidak diberikan ruang sebagai partai politik yang menjalankan
fungsi rekrutmen politik. Kaderisasi apalagi. tidak boleh saat itu.
Selama 32 tahun, hanya satu kali kaderisasi di tingkat nasional. Itulah
ketika kita menjadi ornamen demokrasi. Tidak pernah ada kaderisasi, yang
ada di dalam sejarah partai bagaimana kita diintervensi oleh
kekuasaan," papar Hasto.

Bahkan, kata Hasto, dalam setiap kongres
partai selalu ada intervensi kekuasaan. Tapi hebatnya, di tengah-tengah
intervensi kekuasaan itu, muncul kesadaran dari tokoh-tokoh senior PDI
yang menegaskan pentingnya konsolidasi ideologi. Sedang perlawanan yang
dilakukan adalah perlawanan terhadap nilai yang dikeramatkan Soeharto
yakni keharmonian dan stabilitas politik.

"Kami tak mampu melawan
kekuasaan yang sangat otoriter itu, maka yang kami lawan nilai-nilai
keharmonian yang dikeramatkan oleh Pak Harto. Terbukti atas intervensi
yang dilakukan, Presiden, para menteri di bidang politik, Panglima ABRI
hingga struktur pemerintahan yang paling bawah tidak mampu meredam
konflik yang berasal dari intervensi kekuasaan mereka sendiri,"
jelasnya.

Dia menambahkan, PDIP memiliki sejarah yang panjang.
Dalam sejarah itu, modal PDIP adalah persatuan dengan rakyat. "Jadi
kaderisasi ini baru berhasil apabila seluruh peserta memiliki daya juang
untuk menyatu dengan rakyat,". tandas dia.

Hasto didampingi
sejumlah Ketua DPP PDIP seperti Djarot Saiful Hidayat, Komaruddin
Watubun, Hamka Haq, Ketua Badiklatpus Daryatmo Mardiyanto dan sejumlah
Ketua DPP PDIP yang mengikuti secara daring.
Home